Amal Butuh Modal?

oleh

MACCANEWS- Amal saleh sesungguhnya ada lah alam (nature) manusia. Menurut fitrahnya, manusia suka pada kebaikan yang merupakan alam manusia. Lawannya, yakni keburukan dengan sendirinya tidak bersifat manusiawi, dalam arti tidak berguna dan tidak sesuai dengan alam dan kemuliaan manusia. “Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, ada pun yang mem beri manfaat kepada manu sia, maka ia tetap di bumi.” (QS ar- Ra’d: 17).

Amal saleh dikerjakan tidak untuk Tuhan, tetapi untuk ke baikan manusia itu sendiri baik di dunia maupun di akhirat. Orang yang sudah berbuat baik janganlah merasa sudah berbuat baik untuk Tuhan. Tak hanya itu, amal saleh juga disebut mendorong ter kabulnya doa. Prinsip ini didasar kan pada ayat berikut. “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allahlah kemuliaan itu semuanya. Kepa da-Nyalah naik perkataan-per kataan yang baik dan amal yang saleh dinaik kan-Nya.” (QS Fa thir: 10).

Meski amal disebut sebagai fitrah, butuh niat dari hati yang bersih untuk melakukan itu se mua. Rasulullah SAW bersabda, setiap perbuatan bergantung pada niat nya. Setiap orang akan dibalas berdasar kan apa yang dia niatkan. Barang siapa yang hij rah nya karena Allah dan rasul- Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Barang sia pa yang hijrah ka rena dunia yang dikehendaki atau wanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya sebagaimana apa yang diniatkan.

Amal butuh modal berupa niat. Sebuah niat akan menentukan kualitas amal seseorang. Dalam fikih, niat bisa menentu kan kadar sah atau tidaknya iba dah seseorang. Ke tika seseorang memakai gelar haji se lepas pu lang dari Makkah, hukumnya bah kan bisa membuat suatu iba dah menjadi wajib, sunah, atau haram.

Tingkatannya sangat bergantung pada niat untuk apa ia me makai gelar haji tersebut. Niat dalam sudut pandang akhlak pe ngertiannya lebih menunjukkan getaran batin yang menentukan kuantitas sebuah amal. Shalat yang kita lakukan dengan jumlah rakaat yang sama, waktu yang sa ma, dan bacaan yang sama, penilaian bisa ber beda antara satu orang dan yang lain nya bergantung pada kualitas niatnya.

Begitu juga saat menjalankan ibadah ghairu mahdhah, semisal, menolong sesama manusia atau bersedekah. Niat kita yang ber bicara apakah pertolongan itu ikh las karena Allah atau hanya untuk ria. Tidak heran Allah SWT dalam Alquran berfirman: “Wahai orang-orang beriman, ja ngan sia-siakan pemberian sede kahmu dengan menyebut-nyebut dan melukai perasaan penerimanya.” (QS al-Baqarah:264). Walla hu a’lam. (*)