‘Kemandiria Teknologi untuk Kejayaan Umat’

oleh

Oleh: Nur Faizatus Sa’idah (Mahasiswi ITB)

Wacana mengenai kemandirian bangsa selalu menjadi pembahasan yang menarik, apalagi untuk kalangan akademisi. Termasuk kalangan mahasiswa zaman now, mereka bukanlah kalangan yang tertinggal untuk membicarakan ini. Di kampus ITB, Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) baru-baru ini (24/2/2018) mengajak semua elemen yang terlibat dalam kemandirian teknologi untuk memiliki rasa percaya dan optimis bahwa Indonesia bisa menjadi pelopor kemajuan bangsa. Kemajuan bangsa diharapkan berkorelasi positif dengan kejayaan umat manusia; menempatkan manusia pada posisinya sebagai umat terbaik.

Pentingnya kemandirian teknologi

Umat terbaik, salah satunya adalah umat yang mandiri; tidak bergantung pada negara lain. Mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan) maupun di berbagai bidang ipoleksosbudhankam. Hal ini berkaitan dengan teknologi, yang didefinisikan sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dengan cara terbaik.

Teknologi terus berkembang seiring dengan berubahnya peradaban manusia. Mulai dari teknologi zaman batu, roda, berburu, bertani, pabrik tradisional hingga pabrik dengan mesin-mesin otomatis yang juga terus diperbaharui; semakin canggih. Memasuki era revolusi industri 4.0, teknologi terus berkembang dengan cepat. Babak baru era informasi digital telah dimulai, kemajuan dan kemandirian teknologi jadi semakin penting.

Kemandirian teknologi akan menentukan kemandirian bangsa. Bayangkan sebuah negara yang tidak bisa membuat teknologi sendiri; atau misalnya bergantung terhadap bahan-bahan baku vital dari negara lain. Ketika negara tersebut tiba-tiba diboikot oleh produsen asal teknologi yang dipakai, apa yang bisa dilakukan oleh negara tersebut? Negara tersebut akan gelagapan karena tidak siap dengan (1) pengetahuan yang mendasari teknologi/sains dan (2) pengembangan teknologi. Pengetahuan tentang teknologi memungkinkan pemiliknya melakukan hal-hal spesifik yang orang lain tidak mampu melakukannya tanpa menggunakan pengetahuan itu. Sementara dalam pengembangan teknologi, sebuah bangsa bahkan dapat melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Menurut Harus Laksana Guntur (dosen ITS), ada tiga faktor penting yang bisa menentukan kemandirian teknologi dari sebuah negara; (1) education push factor, (2) industry pull factor, dan (3) government policy factor. Sejalan dengan hal itu, menurut Agus Puji Mulyono (dosen UNY dan Staf Ahli Menristek) teknologi sangat berkaitan dengan sistem politik sebuah negara. Ia membahas dalam artikelnya bahwa tanpa political will dari pemerintah, mimpi kemandirian teknologi tidak akan pernah terwujud.

Mengawali awal tahun 2018 ini, pemerintah memberikan perhatiannya pada Revolusi Industri 4.0.  Pemerintah menyiapkan kebijakan-kebijakan di bidang pendidikan dan ekonomi untuk turut berpartisipasi dalam pengembangan teknologi. Sayangnya, kebijakan yang dibuat pemerintah tidak jauh dari apa yang telah digariskan oleh negara yang mengatur jalannya semua negara di dunia: Amerika Serikat. Dalam bidang pendidikan misalnya, kebijakan pendidikan disesuaikan dengan perjanjian WTO dalam GATS, yakni untuk meliberalisasi pendidikan. Jika pemerintah diatur oleh negara lain, apakah negara ini disebut negara dengan umat terbaik? Pertanyaan ini sekaligus memberikan pernyataan bahwa negara ini bukanlah negara yang mandiri dari sisi kebijakan, apalagi dari sisi teknologi.

Kejayaan umat

Sejarah mencatat setidaknya 3 (tiga) kejayaan peradaban besar; Islam, sosialisme/komunisme dan kapitalisme. Masing-masing peradaban telah mencapai kejayaannya. Peradaban Islam berdiri sejak Rasulullah SAW hijrah ke Madinah dan runtuh pada 1924 di Turki, peradaban ini mencapai kejayaan di bidang perkembangan sains dan teknologi pada saat kekhilafahan Abbasiyyah (750-1258). Peradaban sosialisme/komunisme runtuh di tahun 1991. Sementara peradaban kapitalisme masih bertahan hingga hari ini, sejak kemunculannya pasca revolusi Prancis dan revolusi Industri di Inggris sekitar awal abad ke-19.

Jika saat peradaban Islam berkuasa kiblat bagi berbagai aspek kehidupan umat adalah peradaban Islam, maka sejak beberapa ratus tahun sebelum runtuhnya, kiblat itu telah berubah ke Eropa, hingga saat ini. Saintis dan teknolog eropa yang semula belajar dari peradaban Islam, telah maju. Bersamaan dengan kemunduran Islam dalam bidang sains dan teknologi. Namun, dalam buku Jalan Baru Islam, Ahmad ‘Athiyat menuliskan bahwa umat yang memiliki jumlah kaum terpelajar yang banyak belum pasti menjadi umat yang bangkit, dan kemudian menjadi umat terbaik. Justru, menurut ‘Athiyat, umat tersebut harus bangkit terlebih dahulu untuk menjadi sebab kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Analisis ‘Athiyat bisa diterima oleh akal sehat jika definisi tentang kebangkitan disamakan terlebih dahulu. Bahwa bangkitnya umat bukan hanya bangkit dari sisi teknologi saja, tapi juga bangkit di segala aspek kehidupan. Dengan demikian, tidak bisa melabeli negara-negara yang teknologinya maju, tapi keadaan sosialnya (misal tingkat bunuh diri atau kriminalitas tinggi) sebagai negara yang bangkit, atau negara yang terbaik. ‘Athiyat menuliskan dalam bukunya bahwa kebangkitan yang demikian itu hanyalah kebangkitan semu.

Analisis ‘Athiyat memaparkan lebih lanjut bahwa manusia dikatakan bangkit jika pemikirannya bangkit. Bangkitnya pemikiran ini haruslah dengan menemukan pemikiran yang mendasar dan benar. Pemikiran mendasar yang dimaksud adalah jawaban terkait dengan pertanyaan mendasar dalam hidup; dari mana manusia berasal, apa tujuan hidup manusia, dan akan kemana manusia setelah hidup. Dalam bukunya, ‘Athiyat menuliskan bahwa pemikiran yang benar adalah aqidah Islam yang menjawab bahwa; manusia berasal dari Allah SWT Yang Maha Menciptakan dan Maha Pengatur, manusia hidup untuk taat kepada Allah SWT Yang Maha Pengatur sebab akan ada perhitungan ketaatan kepada Allah SWT, manusia akan kembali kepada Allah dalam dua kondisi (masuk surga/neraka) setelah melalui proses perhitungan (hisab). Pemikiran ini secara alamiahnya akan menghantarkan manusia (tidak hanya umat Islam saja) kepada pemahaman yang benar tentang hidup, selanjutnya ia akan melakukan perbuatan sesuai dengan pemikiran benar yang akan membangkitkan manusia/umat.

Teknologi sebenarnya merupakan produk pemikiran.  Pada saat pemikiran kolektif suatu bangsa masih maju, maka akan muncul para ilmuwan dan teknolog.  Mereka berinovasi.  Inovasi ini akan berkelanjutan bila ekonomi berfungsi dan tumbuh.  Ketika umat Islam masih memiliki kejelasan misi mereka di dunia, mereka hidup dengan bersemangat menjadi yang terbaik.  Karena hanya yang terbaik itu yang mampu menggiring yang makruf dan mencegah yang mungkar.  Muncul budaya mencari ilmu dan bekerja keras. (Prof Fahmi Amhar)

Pemikiran umat di masa akhir kekhilafahan Utsmaniyah sudah sangat merosot, sudah sangat jauh dari Islam itu sendiri, meski masih ada negara Islamnya. Prof. Fahmi Amhar menulis dalam artikel beliau, bahwa meski militer dimodernisasi, para ilmuwan dan teknolog muslim ketika itu belum benar-benar bangkit. Tidak heran, karena hal tersebut, ketika Khilafah Usmani terseret ke Perang Dunia I, mereka baru memiliki 46 pilot, 59 pengamat, 3 balon observasi, 92 pesawat (termasuk 14 pesawat amfibi) dan 21 pesawat latih.

Itulah sebabnya, ketika pemikiran sudah tenggelam, sebanyak apapun ilmuwan dan teknolog, tidak akan mampu membuat umat menjadi bangkit. Tidak akan mampu mengembalikan citra umat terbaik, selama tidak mendasari pemikirannya dengan aqidah Islam.