‘Tapak Spritual’

oleh

Oleh : Saifuddin Al Mughniy

Dalam banyak kisah para pendosa seperti sang pelacur masuk surga karena hanya memberi minum seekor anjing. Penjual roti yang dijamin masuk syurga karena amalannya yang tak pernah putus, bahkan seorang preman pun masuk syurga karena hanya menuntun seorang nenek menyeberang jalan. Bahkan pembunuh 100 orang pun dijamin masuk syurga karena jarak menuju hijrahnya lebih dekat dari tempatnya semula.

Kisah tersebut diatas kalau dipandang secara leksikal demikian sederhananya. Tetapi pertanyaannya, sebegitu mudah dan sederhananya untuk mendapatkan syurga. Tetapi tidak sebatas itu, bahwa kemudian pelacur, penjual roti, preman dan pembunuh masuk syurga. Ada hal penting yang terkandung didalamnya bahwa simbol atau identity yang melekat pada diri seseorang bukanlah ukuran untuk menilai bahwa seseorang itu baik atau tidak.

Nilai (value) baik atau buruk adalah cendrung dilihat pada sisi luar, seperti memandang buah durian yang berduri luarnya tapi begitu manis dalamannya, atau sebaliknya melihat buah kedondong mulus diluarnya namun berserak dalamnya. Namun posisi manusia tidaklah sama dengan analogi durian maupun kedondong. Tetapi yang pasti bahwa nilai baik dan buruk adalah sifat yang diaktualkan dalam tindakan. Karenanya, posisi tindakan ter(baca) oleh orang dengan pelebelan (streotipe) baik atau tidak.

Kehidupan manusia adalah sejarah panjang bagi bangunan kosmologi. Disana ada interaksi dan relasi-relasi yang saling ber(hubung)an. Bukan hanya relasi yang menghubungkan pengetahuan dengan kekuasaan (baca; Michel Foucault), tetapi ada hubungan yang lepas dari keduanya yang secara transendental terhubung secara magic dan spritual yakni antara Tuhan dan manusia.

Hubungan atau relasi ini pernah dibantah oleh Malaikat dan pemberontakan bagi Iblis. Pertanyaan malaikat, wahai Tuhan, kenapa manusia Engkau jadikan sebagai wakilMU di muka bumi, bukankah mereka (manusia) yang selalu melakukan kerusakan. Namun Tuhan menjawab dengan hikmah, wahai malaikatku Aku (Tuhan) lebih tahu dari kalian. Berbeda dengan iblis dengan egosentrismenya karena diciptakan dari api. Kondisi ini menjadikan iblis komitment dijalan kesesatan. Merayu dan membujuk manusia masuk dalam kubangan dosa. Posisi egoisme telah merekonstruksi kehidupan manusia pada jerembab kefakiran dan kekafiran.

Karenanya tapak spritual sesungguhnya mengandung makna bahwa sikap amaliah yang dilakukan seseorang secara sosial tergambar dengan mentradisikan kesalehan sosialnya dalam bentuk hubungan antar sesama manusia (hablumminannas), dan mensenyapkan relasi spritualnya dengan sang khalik (hablumminallah). Dua hubungan ini adalah menjadi penanda bahwa kesempurnaan manusia tidaklah terletak pada relasi yang bersifat materialisme, tetapi kemuliaan itu tercermin pada kearifan ilahiah yang merekonstruksi kehidupan individual maupun secara komunal.

Maka, ramadhan sebagai sarana transformasi dari nilai ibadah, secara sadar manusia tergerak meraih kemuliaan dengan memperbanyak ibadah menuju ketaqwaan sebagaimana disebutkan dalam Alqur’an Laallakum Tattakum (agar kamu bertaqwa). Oleh sebab itu, spritualisme seseorang adalah perwujudan dari nilai din (agama) yang mereka pahami. Dan Islam sebagai “agama cinta”, yang membentangkan kasih sayang, toleransi dan ukhuwah, menjadi kekuatan bagi Islam untuk menjajaki kehidupan yang serba kompleks ini.

Dan pada akhirnya, manusia di penghujung kehidupannya secara pasti tersisa jejak spritual yang ditditinggalkannya. (*)