Awasi Buah Hati Kita, Gadgetnya Picu Digital Demensia

oleh

MACCANEWS –  Apa itu digital demensia? Dalam ilmu kedokteran Demensia adalah sebuah sindrom yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi otak, seperti berkurangnya daya ingat (pikun), menurunnya kemampuan berpikir, memahami sesuatu, melakukan pertimbangan, dan memahami bahasa, serta menurunnya kecerdasan mental. Sindrom ini umumnya menyerang orang-orang lansia di atas 65 tahun. Namun sekarang, sindrom ini sangat mungkin menjangkit anak-anak dan remaja.

Sesuai dengan namanya, gadget atau alat-alat digital yang digunakan dalam rentang waktu sangat lama adalah pemicu anak-anak dan remaja terserang digital demensia. Apalagi, jika mereka mulai menggunakan gadget pada usia yang terlalu dini.

Berdasarkan penelitian Perhimpunan Dokter Spesialis Anak Amerika, bayi di bawah usia 2 tahun tidak boleh terekspose teknologi, termasuk gadget. Kemudian usia 3-5 tahun penggunaan gadget dibatasi 1 jam per hari, dan usia 6-8 tahun penggunaan gadget diperbolehkan 2 jam per hari. Karena 38 % anak yang terekspose gadget diusianya yang krang 2 tahun dapat menyebabkan gangguan bicara.

dr. Laksmi Suci Handini, SpA – seorang dokter spesialis anak dari RS Husada Utama memaparkan, gadget dapat memicu anak-anak mengalami digital demensia, karena gadget bersifat high speed media content, sehingga kecepatannya yang tinggi menyebabkan gangguan perhatian, konsentrasi, mental, hingga pada akhirnya akan menjadikan pikun

Penjelasannya secara medis, sejak dilahirkan, anak-anak membawa puluhan juta sel otak. Dari usia 0 hingga berumur 2 tahun, besar otaknya secara bentuk maupun volume akan bertambah 3 kali lipat dan akan berkembang hingga berusia 21 tahun. Di usia tersebut, sel otak ini akan menyambung antara satu dengan yang lainnya, sehingga sinap atau saraf di otak akan semakin padat.

Saat masa perkembangan itu, stimulasi dari lingkungan sangat penting. Jika stimulasi terlalu over exposure dengan gadget, maka akan menyebabkan efek negatif pada fungsi eksekutif, yakni cara berpikir dan mengambil keputusan. Itulah yang menjadikan anak terserang demensia. Tak hanya itu, ia pun berisiko mengalami gangguan perhatian, kepandaiannya terhambat, gangguan belajar, terjadi penurunan self regulation (kemampuan diri untuk mengontrol diri sendiri berkurang), menyebabkan anak lebih mudah tantrum (melukai diri sendiri), depresi, gangguan cemas, gangguan ketergantungan gadget, hingga gangguan psikotik (gila)

Selain menyebabkan gangguan psikis, penggunaan gadget berlebih juga dapat menyebabkan gangguan fisik pada anak. Salah satunya obesitas, karena ketika bermain gadget, biasanya seorang anak tidak banyak melakukan aktifitas fisik.

“Kurangnya aktivitas fisik pada anak, akan menimbulkan gangguan perkembangan. Hal itu juga akan berdampak pada menurunnya kemapuan belajar di sekolah. Sebab, pada dasarnya anak-anak itu butuh bergerak, karena dengan bergerak akan membentuk fungsi otaknya, sebab gerakan dapat meningkatkan kemampuan perhatian dan belajar seorang anak,” jelas dr. Laksmi Suci Handini, SpA.

Untuk itu, ia pun menyarankan bahwa mengawasi dan mendekatkan diri dengan buah hati adalah salah satu yang harus dilakukan orang tua untuk menghindari kemungkinan digital demensia dan dampak negatif lainnya, dari penggunaan gadget pada anak. Khususnya, bagi orang tua dengan anak di bawah usia 3 tahun (batita).

“Sebenarnya yang dibutuhkan oleh batita adalah interaksi langsung dengan orang tuanya dalam bentuk permainan yang edukatif, untuk melatih motorik kasar dan halusnya seperti permainan menumpuk –numpuk balok, bongkar pasang, dsb,” tutur dr. Laksmi.(Rahayu Puspita)