Miliki Satu Kaki, Perenang Indonesia Taklukkan Asia

oleh

MACCANEWS- Prestasi olahraga bisa diukir oleh siapa saja, termasuk bagi penyandang disabilitas. Para atlet difabel Indonesia berjuang mengharumkan nama bangsa di ajang Asian Para Games 2018, yang akan digelar pada 6-13 Oktober 2018.

Ada sebanyak 18 cabang olahraga yang akan diikuti para atlet difabel Indonesia. Mereka akan bersaing dengan atlet difabel dari 43 negara lainnya.

Ajang olahraga empat tahunan ini adalah edisi ketiga. Untuk kali pertama Indonesia terpilih menjadi tuan rumah.

Salah satu atlet difabel yang berkontribusi ialah Jendi Panggabean. Ia akan turun di cabang olahraga (cabor) renang.

Jendi diunggulkan karena berhasil meraih 3 medali emas, 1 perak dan 1 perunggu pada ajang Asian Para Games Singapura pada 2014 silam.

Selain itu, Jendi juga memecahkan rekor 100 meter gaya punggung dan 200 meter ganti gaya.

Hebatnya, Jendi berhasil mempertahankan prestasinya tersebut di ASEAN Para Games Malaysia pada 2017.

Berkat prestasinya tersebut, Jendi pun tercatat sebagai pegawai di Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Pria kelahiran 6 Juni 1991 di Sugih Waras, Muara Enim, Sumsel ini kehilangan satu kakinya saat masih duduk di bangku kelas 6 SD. Usianya baru 12 tahun.

Jendi mengalami kecelakaan tunggal sepeda motor. Posisi Jendi dibonceng oleh temannya. Sang teman hanya mengalami patah tulang, sedangkan kaki kiri Jendi hancur dan akhirnya harus diamputasi.

“Hidup saya sudah hancur saat itu. Saya sedih bukan memikirkan nasib saya, tapi kedua orangtua saya,” tutur Jendi.

Putra pasangan Akmal Yasnudaya dan Misrawati ini mencoba bangkit dengan menjajal jadi perenang difabel saat duduk di bangku SMA.

“Tidak mudah renang cuma pakai satu kaki,” ungkap Jendi yang terus berusaha menjadi perenang profesional.

Karier Jendi dimulai sejak tahun 2012. Kala itu, ia mengikuti Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XIV Riau 2012. Jendi peroleh 2 emas, 1 perak dan 1 perunggu.

Sejak itu, prestasi terus ditorehkan oleh Jendi hingga menaklukkan Asia. Semua itu ia lakukan demi membanggakan kedua orangtuanya.

“Kenangan yang tak bisa saya lupakan, waktu lihat orangtua menangis ketika saya dapat medali emas pertama,” kenang Jendi.

Ambisinya saat ini meraih banyak medali untuk Indonesia di berbagai ajang internasional. “Demi mewujudkan itu, saya rela menambah program latihan sendiri, kalau bisa disamakan dengan program latihan perenang normal,” tutur Jendi. (*)