Pergantian Pimpinan Perusda, Pengamat: Timsel dan Pansel Perusda Harus Terhindar dari Kepentingan Politik

oleh

MACCANEWS- Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto dalam waktu dekat ini bakal mengganti pimpinan Perusahaan Daerah (Perusda) dianggap gagal mencapai target dalam menyukseskan program pemerintah kota Makassar.

Pengamat pemerintahan dari Universitas Hasanuddin (Unhas), DR.Abdi mengutarakan pergantian yang bakal dilakukan Walikota Makassar tersebut, prosesnya harus penuh penuh konsisten.

“Pelajaran dan bahan evaluasi utk rekrutmen pimpinan perusda berikutnya. Variabel-variabel seleksinya harus konsisten, syarat calon harus ketat, metode seleksi objektif,” ujar DR.Abdi, Senin (10/9/2018).

Bahkan, DR Abdi berharap para tim seleksi (timsel), dan panitia seleksi (Pasek) terhindar dari kepentingan politik.

“Timsel dan pansel harus yang kredibel, jauhkan dari intervensi kepentingan politik.  Sehingga hasilnya akan bagus dan memuaskan bagi semua pihak,” ungkapnya.

Sementara anggota komisi A DPRD kota Makassar, And.Wahab Tahir mendukung penuh pergantian pimpinan perusda yang akan dilakukan Walikota Makassar.

“Soal mutasi pada jajaran struktural fungsional dan perusda apapun kebijakan pak walikota saya mendukung 1000 persen,” sebutnya.

Wahab Tahir menambahkan resuffle harus menghadirkan pimpinan perusda yang gesit membantu Walikota dalam menyukseskan program pemerintah kota kedepannya.

“Namanya pembantu pak walikota maka, selayaknya dan seharusnya membantu beliau dengan memperlihatkan kinerja yg baik didalam melaksanakan seluruh program pak walikota baik di rpjp dan rpjmd. Yang kedua, pembantu itu harus memiliki integritas, dedikasi dan loyalitas yang tinggi kepada pak walikota didalm rangka meningkatkan kualitas pelayan kepada rakyat. Pimpinan perusda bukan malah menjadi beban didalam pemerintahan. Dan sebaiknya pak walikota mempersegera melakukan mutasi krn masa jabatan pak walikota sisa kurang satu tahun,” ujarnya.

Bahkan Walikota Makassar juga merencanakan akan meresuffle  para  SKPD yang dianggap tidak maksimal. (*)