Strategi Perang Jenderal VS Taipan di Timses Jokowi dan Prabowo

oleh

MACCANEWS- Kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno telah menentukan ketua tim pemenangan masing-masing. Tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf akan dipimpin pengusaha Erick Thohir; sedangkan kubu Prabowo-Sandi menempatkan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Djoko Santoso.

Masing-masing tokoh dinilai memiliki keunggulan. Erick sebagai seorang taipan tentu memiliki jaringan dan pengalaman di sektor ekonomi, sementara Djoko yang merupakan purnawirawan TNI memiliki jaringan dan skill penguasaan teritorial luas di bidang militer.

Perang taipan vs militer pun diprediksi akan terjadi di masa kampanye mendatang. Terpilihnya Erick diyakini untuk menambal kelemahan Jokowi-Ma’ruf di sektor ekonomi. Sedangkan Djoko Santoso untuk menegasikan bahwa Prabowo-Sandi juga didukung kelompok militer setelah sebelumnya puluhan jenderal telah berbaris di belakang Jokowi-Ma’ruf.

Direktur Eksekutif Parameter Indonesia Adi Prayitno mengungkapkan, penunjukkan Djoko Santoso seakan ingin menyampaikan pesan bahwa Prabowo adalah pemimpin yang tegas dan keamanan negara pasti akan terjamin bila dipimpin oleh seseorang yang berasal dari kalangan militer.

“Tentu Djoko Santoso sebagai mantan militer, ia akan coba mengkapitalisasi seluruh jejaring yang pernah dia miliki, bahwa Prabowo adalah pemimpin tegas, bahwa di tengah kepemimpinan militer kepemimpinan yang kuat ke depan pasti akan terwujud,” kata Adi Prayitno.

Adi pun memprediksi Djoko akan menggunakan isu keamanan dan pertahanan negara dalam strategi kampanye nanti. Seperti maraknya tindakan terorisme selama beberapa bulan terakhir diprediksi akan digunakan sebagai isu bahwa bidang pertahanan dan keamanan di era Jokowi cukup lemah.

“Anggaplah 4-5 tahun belakangan ini kepemimpinan sipil di bawah Pak Jokowi masih ada compang campingnya, banyak begal, kasus hukum, maraknya terorisme seakan pemimpin sipil ini dalam bidang pertahanan dan keamanan agak lemah,” tuturnya.

“Jadi itu sebabnya muncul Djoko Santoso itu di Prabowo sebagai upaya untuk menjawab kalau mereka menang akan memberikan rasa aman, minimal tidak ada terorisme, tidak ada pembegalan, tidak ada upaya gerakan separatisme. Jadi pasti itu dimainkan,” jelasnya.

Dari catatan yang ada, selain Djoko, beberapa pensiunan jenderal sebenarnya juga menguatkan barisan pendukung Prabowo. Beberapa diantaranya masuk dalam kepengurusan Partai Gerindra yakni Mayjend TNI (Purn) Haryadi Darmawan, Mayjen TNI (Purn) Yudi Magio Yusuf, Mayjen TNI (Purn) Chaerawan Nusyirwan, Mayjen TNI (Purn) Soenarko dan Letjen TNI (Purn) Yunus Yusfia.

Bahkan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon dalam akun Twitter @fadlizon pernah mengunggah video berdurasi kurang lebih 1 menit dengan menuliskan jika “Sekitar 60 Jenderal Purnawirawan TNI deklarasi dukung @prabowo sebagai Presiden 2019”.

Meski demikian, bukan berarti Jokowi tidak unggul di militer. Adi mengungkapkan di kubu Jokowi ada banyak anggota TNI yang masih aktif maupun yang tidak aktif, yang masih memiliki pengaruh kuat. Sementara di kubu Prabowo, jaringan militer yang ia punya tidak begitu signifikan untuk membantunya di Pilpres 2019.

“Betul Prabowo (dari kalangan) militer. Tapi kan dia militer yang udah pensiun lama. Kalau punya jaringan hanya jaringan biasa yang tidak signifikan kalau mereka akan jadi bagian dari Prabowo,” tuturnya.

Di kubu Jokowi, kekuatan Jenderal telah terlebih dulu berbaris rapi. Sebut saja ada nama mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Wiranto; kemudian ada juga Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan; Letjen TNI (Purn) Lodewijk F Paulus; Jenderal (Purn) Moeldoko; Jenderal (Purn) Agum Gumelar; Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu; serta sejumlah jenderal bintang empat lainnya.

Tak hanya itu, barisan pendukung Jokowi yang bertabur bintang ini membentuk kesatuan bernama Cakra 19 mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. Mereka diantaranya adalah Mayjen TNI (Purn) Andogo Wiradi, eks Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP), Mantan Kapuspen TNI laksda TNI (Purn) lskandar Sitompoel. Mantan Pangdam l/ Bukit Barisan Wisnton Pardamean Simanjuntak, Mantan Deputi I bidang Hukum Politik Dalam Negeri Kemenkumham Mayjen TNI (Purn) Yudi Harianto dan lain-lain.

Sesuai tempatnya, para jenderal ini tentu tidak akan bertarung di isu ekonomi. Karenanya untuk sosok ekonom, Prabowo tetap akan mengandalkan Sandiaga Uno. Sedankan Jokowi telah memilih Erick Thohir yang akan berperan mengkampanyekan isu ekonomi.

“Dari sisi ekonomi, belakangan Sandi memang terkesan leading dan unggul karena dia pengusaha sukses, muda dan enggak banyak bicara, tapi dia sudah blusukan ke mana-mana. Orang kalau bicara ekonomi enggak usah banyak-banyak ceritalah. Sandi kan begitu, seakan-akan enggak ada jawabannya di Jokowi dan Ma’ruf Amin. Sebab itu dimunculin Erick Thohir sebagai lawan tanding,” ujarnya. (*)