Memahami Al-Quran, Merenungkan Maksud

oleh

MACCA.NEWS Memahami Al-Qur’an tidak berhenti pada memahami arti literalnya, melainkan harus sampai pada memahami maksud dan cita-citanya. Demikian tausiyah KH Husein Muhammad:

Di depan peserta PPWK (Program Pengembangan Wawasan Keulamaan) Lakpesdam NU , pada 20 April 2017, saya menyampaikan :

Ibn Mas’ud, seorang sahabat besar, mengatakan :

مَنْ اَرَادَ عِلْمَ الْاَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ فَلْيَتَدَبَّرِ الْقُرْآنَ. وَذَلِكَ لَا يَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ تَفْسِيرِ الظَّاهِرْ

“Barang siapa yang hendak memahami pengetahuan ulama terdahulu dan yang mutakhir, maka renungkan makna al-Qur`an itu secara mendalam. Dan itu tidak bisa dicapai hanya dengan memaknainya secara literal/harfiah.” (Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Ihyâ` ‘Ulûm al-Dîn, Juz I, hal. 289).

Al-Qur’an sendiri menyindir ( baca : mengkritik) orang-orang yang tidak melakukan permenungan atau memaknai secara mendalam atas wahyu Tuhan itu :

افلا يتدبرون القرآن . أم على قلوب أقفالها

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”.

Di tempat lain Al-Qur’an mengatakan :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan (memperhatikan dengan seksama) ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran memeroleh pelajaran yang berharga”.

Ada kata “Tadabbur” di atas. Ia biasa diterjemahkan “merenungkan” atau “memerhatikan”, dengan seksama/mendalam. Para ahli bahasa memaknai “tadabbur” sebagai : “melihat akibatnya dan hasil akhir nya”. Ia tidak sekedar memikirkan, merenungkan atau memerhatikan makna yang terkandung di dalamnya, melainkan lebih dari itu memikirkan gunanya, manfaatnya dan madaratnya, atau dampak positif dan negatifnya, baik buruknya.

Al-Jurjani mengatakan :

هو عبارة عن النظر فى عواقب الامور. وهو قريب من التفكر. الا ان التفكر تصرف القلب بالنظر فى الدليل والتدبر تصرفه بالنظر فى العواقب

“Al-Tadabbur adalah memikirkan hasil akhirnya. Ia seperti “tafakkur”(memikirkan), tetapi “tafakkur”, mengarahkan akal pikiran untuk memahami dalil/argumen, sedangkan “tadabbur”, mengarahkan akal atau hati kepada akibat atau hasil akhirnya”.

Al-Syathibi dalam “al-Muwafaqat” mengatakan :

التدبر انما يكون لمن التفت الى المقاصد

“Tadabbur, ditujukan kepada orang yang melihat pada tujuan/visi”.

Jadi kata saya mengakhiri : memahami Al-Qur’an tidak berhenti pada memahami arti literalnya, melainkan harus sampai pada memahami maksud dan cita-citanya. (*)