Real Count TKN: 23 Juta Suara Masuk, Jokowi Unggul 56%

oleh

MACCA.NEWS– Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin memperkenalkan pusat pemantauan penghitungan Pemilu 2019 bernama ‘war room’, yang berlokasi di salah satu ruangan di Hotel Grand Melia, Jakarta.

Wakil Direktur Saksi TKN Lukman Edy menjelaskan di dalam war room ini terdapat 250 personel yang akan bekerja selama 24 jam dengan tiga shift. Para petugas melakukan rekapitulasi real count hasil verifikasi C1 dari tempat pemungutuan sura (TPS) seluruh Indonesia.

Hasil C1 diperoleh dari JAMIN, sebuah aplikasi yang dimiliki TKN yang berisi pelaporan saksi mulai dari TPS. “Aplikasi ini memudahkan saksi melaporkan hasil penghitungan suara serta foto C1 dari TPS,” kata Lukman Edy.

Hingga Minggu (21/4/2019), penghitungan sementara suara nasional oleh war room mencapai 14,66 persen atau 119.216 TPS dari total 813.350 TPS seluruh Indonesia. Adapun total perolehan suara 23.847.734 suara.

Lukman Edy menyampaikan perolehan sementara ini menunjukkan paslon Jokowi-KH Maruf Amin unggul 56,16 persen (13.155.012 suara) atas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang mendapatkan hasil 45,84 persen (10.693.723 suara). “Hasil rekapitulasi suara TKN hampir sama dengan perolehan KPU. Ini menandakan bahwa kita sejalan dengan apa yang dilakukan KPU,” tambah Lukman Edy.

Lukman Edy menambahkan awalnya TKN menargetkan penghitungan pada H+1 mencapai hingga 50 persen suara. Namun belakangan terjadi beberapa kendala di lapangan, seperti rekapitulasi yang kebanyakan baru terjadi di tingkat kecamatan. “Kendala pemilu sekarang tidak ada rekapitulasi tingkat desa, melainkan langsung rekapitulasi tingkat kecamatan, sehingga memakan waktu,” kata Lukman Edy.

Lukman Edy mengungkapkan temuan TKN bahwa terdapat kerusakan data hasil pemilu yang diklaim kubu Prabowo-Sandi. Ada banyak permasalahan yang ditemukan dalam data tersebut, seperti kesalahan sampling data Provinsi Lampung yang telah direpresentasikan TKN. Selain itu, terdapat 10 persen data rusak, berupa data ganda, alamat TPS tidak lengkap, hingga angka suara kedua paslon tidak lengkap. “Jumlah sampling mereka juga tidak proporsional. Contoh, data DKI Jakarta dan Jawa Tengah jumlahnya hampir sama 300-an data, sementara jumlah DPT Jawa Tengah jauh lebih besar dari pada DPT di DKI Jakarta,” kata Lukman Edy.

Lukman Edy menyatakan tim Prabowo-Sandi hanya mengambil data dari TPS dimana mereka menang.

Diketahui, kubu Prabowo-Sandi mengumumkan klaim kemenangan dengan merilis data quick count dengan sampling 3.000 TPS. Hasilnya menunjukkan kemenangan 62,23 persen untuk Prabowo-Sandi. (*)