Ramadhan atau Ramadan? Kecerobohan Kamus Bahasa Indonesia

oleh

MACCA.NEWS-  Bulan suci Ramadhan atau Ramadan? Mana yang benar dalam penulisannya?

Simak penjelasan pengamat bahasa Akhmad Sekhu yang dilansir dari Wartakotalive.com berikut:

Ada yang perlu diwaspadai dalam penulisan kata Ramadhan, yaitu jangan sampai kita menghilangkan huruf “h” sehingga kemudian menjadi Ramadan karena dengan begitu pengertiannya akan berubah total.

Ramadhan berarti panas yang menyengat atau kekeringan, khususnya pada tanah.

Di Jazirah Arab memang menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus) dan bulan ke sembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat.

Musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya.

Hal itu terjadi berhari-hari, sehingga setelah beberapa pekan bisa terjadi akumulasi panas yang menghanguskan.

Hari-hari itu disebut bulan Ramadhan, bulan dengan panas yang menghanguskan.

Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan (qomariyah), yang rata-rata sebelas hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadhan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas.

Orang lebih memahami panasnya Ramadhan secara metafora (kiasan). Karena di hari-hari Ramadhan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan.

Dari akar kata tersebut kata “Ramadhan” digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadhan digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah.

Kata “Ramadan” (tanpa huruf h) dalam bahasa Arab berarti orang yang sakit mata mau buta, sehingga tak dapat disamakan dengan “Ramadhan”

Namun kata “Ramadan” (tanpa huruf h) dalam bahasa Arab artinya orang yang sakit mata mau buta, sehingga tidak dapat disamakan artinya dengan “Ramadhan.”

Kecerobohan Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, bentuk yang tepat adalah Ramadan bukan Ramadhan.

Ramadan dianggap bentuk yang baku.

Pasalnya, bahasa Indonesia tidak mengenal gabungan konsonan ‘dh’.

Namun menurut pengamat bahasa Akhmad Sekhu yang menyayangkan penulisan ejaan Ramadhan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan kata Ramadan.

“Entah mengapa para ahli bahasa yang menyusun KBBI sangat ceroboh menuliskannya begitu.

Apakah mereka tidak sengaja atau apa? KBBI tentu menjadi rujukan masyarakat Indonesia dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan benar dan baik (bukan baik dulu, baru kemudian benar),” tulisnya.

Jadi para ahli bahasa yang menyusun KBBI harus hati-hati dalam menyusun kata-kata dalam kamus pedoman itu.

Apalagi kata Ramadhan adalah salah satu kata yang paling banyak digunakan oleh masyarakat

Terlebih lagi, penduduk Indonesia paling besar adalah memang beragam Islam.

Bahasa Indonesia dalam perkembangannya mengakomodasi kata-kata dari banyak bahasa: Arab, Belanda, Inggris, Latin, Prancis, Sanskerta, Spanyol, Tionghoa, Yunani dan lain-lain.

Dalam bidang agama, ratusan kata berasal dari Bahasa Arab, termasuk salah satunya kata Ramadhan yang sedang kita bicarakan.

Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang ada hubungannya dengan bahasa negara lain, sangat dimungkinkan muncul gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar budaya negara itu.

Tapi karena kata Ramadhan memang sangat berbeda artinya dengan kata Ramadan tentu harus tetap digunakan kata Ramadhan.

Jangan dibiarkan kesalahan penggunaan kata Ramadhan dengan Ramadan, karena melahirkan salah kaprah…

Jangan dibiarkan kesalahan penggunaan kata Ramadhan dengan Ramadan.

Karena kita tahu sendiri dalam menggunakan bahasa di tengah masyarakat kita sering terjadi salah kaprah, artinya menggunakan bahasa pada awalnya salah dan karena yang salah dibiarkan tetap salah maka masyarakat kemudian menganggapnya itu sebagai bahasa yang umum digunakan sehingga masyarakat akhirnya tidak merasa salah kalau menggunakannya. Padahal penggunaan bahasa itu keliru.

Oleh karena itu juga yang salah akan tetap salah dan janganlah dilakukan yang nantinya akan berakibat menjadi lebih fatal lagi sehingga akhirnya kekeliruan itu walaupun salah sekalipun tapi karena umum dilakukan sehingga akan menjadi kebiasaan. (Akhmad Sekhu)

(*Penulis adalah pengamat bahasa alumnus Universitas Widya Mataram Yogyakarta, kini tinggal di Jakarta dan Tegal