Mulawarman: Mutasi Pejabat di Pemprov Sulsel Berbau Fitnah

oleh

MACCA.NEWS- Mulawarman wartawan senior kembali lontarkan kritik tajamnya ke pemerintahan Nurdin Abdullah. Menurutnya, mutasi yg dilakukan oleh Gubernur Sulsel di kantornya, adalah mutasi yg berbasis fitnah, bukan berbasis Kinerja.

Dihubungi via telepon pagi tadi, Mulawarman yg dimintai tanggapanya tentang pengakuan Lutfie Natsir yg mengaku difitnah sebelum di copot oleh Gubernur. Menilai apa yg dialami Lutfie Natsir itu, persis sama dengan yg dialami oleh Jumras Kepala Biro Pembangunan Pemprov Sulsel yg juga dicopot karena tuduhan yg tidak pernah bisa dibuktikan oleh Gubernur yg menuduhnya.

Mantan Kepala Inspektorat Pemprov Sulsel Lutfi Kadir, Rabu kemarin kepada awak media, mengaku dirinya telah difitnah telah menghilangkan LHP (laporan hasil pemeriksaan) dan fitnah lainnya. Atas dasar fitnah itu, dirinya dicopot.

“Mutasi berbasis fitnah ini, sangat jelas menunjukkan kalau Nurdin Abdullah, tidak layak lagi jadi Gubernur. Sebaiknya DPRD Sulsel lewat hak angket, segera melengserkan Gubernur ini,” kata Mulawarman menyarakan.

Alasannya, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah yg digelar Professor Andalan itu, tidak memiliki kapasitas sebagai Gubernur ataupun pemimpin. Setidaknya yg hal cukup dasar saja, tidak ketahuimya atau dimilikinya. Seperti, aturan apa dan bagaimana mutasi pejabat itu seharusnya dilakukan, tutur Mulawarman.

“Dia Nurdin Abdullah, bertindak sembrono, dia tidak memiliki pengetahuan, apa dan bagaimana jika dia melakukan memutasi bawahannya dan apa yg akan dicapainya dengan mutasi itu,” tambah Mulawarman lagi.

Karena ketidak tahuannya itu, akhirnya Nurdin Abdullah melakukan mutasi di kantornya atas dasar fitnah atau mutasi berbasis fitnah. “Parahnya lagi, sudah berbasis fitnah, diumumkan lagi ke publik, sehingga mutasi itu jadi kejam dan sadis,” kata Mulawarman dengan nada tinggi.

Lutfie dan Jumras dua pejabatnya yg dicopot berbasis fitnah itu, diumumkan ke publik atau atau masyarakat luas, dan itu sama dengan melucuti hak dasar Jumras dan Lutfie sebagai manusia. Hak untuk dihargai dan hormarti sebagai manusia.

“Nurdin Abdullah mempermalukan kedua pejabatnya di depan publik, dan itu sangat sadis. Ini juga bukti, Nurdin Abdullah tidak mengenal kearifan lokal di Sulsel ini, Nurdin Abdullah tidak memilik Siri dan Pacce,” kata Mulawarman.

Ditanya tentang kemungkinan Nurdin Abdullah menerima begitu saja laporan dari bawahannya tentang si pejabat yg dicopot itu, Mulawarman dengan nada tinggi mengatalan, justru karena itulah Nurdin Abdullah yang Guru Besar di Unhas itu, tidak seharusnyan suka dan hobi menerima laporan ABS (Asal Bapak Senang) dari bawahannya.

Diakui oleh Mulawarman, bahwa Nurdin Abdullah tidak mempercayai seluruh ASN di kantornya. Karenanya, Nurdin Abdullah memilih mengangkat banyak orang swasta dan orang perguruan tinggi yg dikenalnya secara baik dan dipercayanya untuk jadi Staf Ahli dan Staf Khusus. “Dia sangat percaya staf khususnya dan staf ahlinya, sehingga apapun yg dikatakan dan dilaporkan stafnya dipercayanya dan ditelangnya mentah,” ujar Mulawarman, Kamis (13/6).

Ketidak percayaan kepada ASN makin bertambah, setelah Nurdin Abdullah yg harus diketahui oleh publik di Sulsel ini, sudah tidak sejalan dan seiring dengan wakilnya Andi Sudirman. “Bahkan Nurdin Abdullah tidak hanya tidak percaya pada ASN di kantornya. Tetapi juga takut pada ASN, takut kalau ASN itu orangnya Andi Sudirman wakilnya,” tambah Mulawarman, kali dengan tertawa.

Situasi dan kondisi di Kantor Gubernur saat ini, lanjut Mulawarman, sudah sangat tidak konsusif, karena ASN di kantor Gubernur saat ini, juga menjadi sangat takut, kaku dan tidak berani bertindak atau ambil keputusan. Mereka hanya menunggu arahan dan petunjuk staf khusus dan staf ahli gubernur, baru mereka bisa bekerja atau bertindak ambil kebijakan.

“Kalau saya ambil kebijaka atau memutuskan sendiri, saya takut ada yg berbisik ke Pak Gub, bahwa kebijakan yg saya ambil itu, adalah atas perintah Wagub. Atau sebaliknya, atas perintah Pak Gub,” ungkap Mulawarman mengutip curhat salah pejabat di kantor Gubernur.

Selain itu, semakin sangat parahnya lagi, kata Mulawarman, ASN asal Bone dan Bantaeng salain hati-hati. Karena yang asal Bone diduga takut kepada ASN asal Bantaeng melaporkan kinerjanya ke Gubernur. Sebaliknya ASN asal Bantaeng takut pada ASN Bone dilaporkan Kinerjanya ke Wagub.

“Itu akibatnya banyaknya pejabat dari Bantaeng yg ditarik Pak Gubernur ke Kantor Gubernur, dan Wagub juga ikut menarik pejabat dari Bone ke Kantor Gubernur,” kata Mulawarman.

Menurut Mulawarman, situasi dan kondisi kantor gubernur sudah sangat tidak sehat, sehingga dipastikan kantor gubernur itu tidak akan produktik, dan kebijakan yang keluar dari kantor itu pasti tidak sehat. “Jadi saya tidak heran kalau Dr Hasrullah dari Unhas mengatakan, kalau Nurdin Abdullah saat ini, tidak tau mau berbuat apa atau mengerjakan apa,” jelas Mulawarman.