‘Ideologi Sendal Kulit Mulawarman’

oleh

oleh : YARIFAI MAPPEATY

Mulawarman adalah salah satu sosok unik dan langka yang pernah dilahirkan oleh Sulawesi Selatan. Namanya tak asing bagi aktivis, mulai dari generasi 1980-an hingga saat ini. Hampir semua tokoh dan pejabat penting Sulsel sejak dekade 1980-an, baik yang tinggal di Makassar maupun yang berkiprah di Jakarta, mengenalnya. Paling tidak, pernah mendengar namanya disebut.

Tetapi bagi orang yang sudah mengenalnya dengan baik, mendengar namanya, pasti terbayang sosok mungil yang tidak gemuk dan tidak juga kurus. Ia tergolong bertubuh pendek, hanya beberapa puluh centimeter di atas semampai (semeter tak sampai) alias “dattulu”. Mungkin karena itu sehingga ia dijuluki “si kancil” sejak dari kampus, sekitar tiga puluh tahun silam.

Ia selalu tampil sederhana dan apa adanya. Kemana-mana, nyaris selalu dengan kaos oblong yang dibungkus jaket. Atau kaos lengan panjang berkerah, seperti sweeter, dipadu dengan celana jeans. Tetapi sebenarnya, ciri yang paling menonjol terletak pada bagian paling atas dan paling bawah pada dirinya.

Sejak dulu ia selalu pakai topi, mungkin karena ia memang hobbi memakai topi. Tapi kini, topi baginya bukan lagi sekadar hobbi. Ada fungsi lain yang tak bisa ia pungkiri. Yaitu, untuk menutupi kepalanya yang sebagian sudah licin plontos dari sengatan matahari. Atau dari cengkeraman hawa dingin 19 derajat celsius di dalam ruangan ber-AC.

Kak Mul, begitu ia disapa, sudah begitu identik dengan sandal, sehingga menjadi ciri utamanya. Kapan dan dimana pun ditemui, ia selalu dengan sandal galang kulit yang bentuknya menyerupai sandal gunung. Begitu sukanya dengan sandal galang kulit, maka jangan pernah coba-coba menjanjikannya. Sebab, Ia tak akan pernah berhenti menagihnya, bahkan terus mengejar sampai Ia mendapatkannya. Contohnya, Husain “Uceng” Abdullah, Jubir Wapres JK, telah menjadi salah satu “korbannya”.

Begitu sukanya dengan sandal, seolah sudah menyatu dengan dirinya. Baginya, sandal bukan lagi sekadar alas kaki yang membawa langkahnya kemana-mana menyusuri lorong-lorong kehidupan. Tetapi sudah menjadi semacam simbol ideologi. Yaitu, ideologi perlawanan bagi masyarakat kelas bawah melawan ketidakadilan. Bahkan mungkin sandal itu adalah dirinya sendiri yang benar-benar merasakan terinjak-injak oleh kemapanan yang angkuh.

Ada selang waktu yang cukup panjang, kami tidak bertemu. Namun sejak 2014, nyaris setiap hari kami jalan-jalan dan duduk-duduk bersama di emperan gedung-gedung DPR RI Senayan. Pada usianya yang sudah berangkat senja, ia masih menyimpan kegelisahan pada cintanya. Gelisah pada universitas yang pernah mendidiknya. Gelisah pada Sulawesi Selatan, tanah tempat ia dilahirkan dan tempat mula-mula ia berkiprah pada dunia yang menggoreskan namanya. Bahkan, gelisah pada negerinya yang membuatnya tak pernah berhenti menggeliat.

Cinta yang gelisah itu, ketika bertemu dengan Ideologi sandal kulit yang bersemayam dalam dirinya, membuat ia meledak-ledak mengungkapkan gelisahnya. Kegelisahan itu kadang ia ungkapkan begitu sarkastik dengan “makian”, terutama di media sosial. Misalnya, ketika menemukan ada asa yang tersumbat dan menemui jalan buntu. Tanpa tedeng aling-aling, ia memaki siapa saja yang dianggapnya penyebab terjadinya kebuntuan itu. Bahkan terhadap seorang semisal Pak JK sekalipun.

Mengeritik bagi Mulawarman seolah-olah sudah menjadi pekerjaan. Asalkan ia menemukan sesuatu yang menurutnya salah. Tidak peduli teman atau bukan, ia pasti melancarkan keritiknya. Bahkan terhadap orang-orang yang sering membantunya dalam hal finansial, seperti Aksa Mahmud, pemilik kelompok bisnis Bosowa, pun tak luput dari kritiknya.

Uniknya, ia melakukan itu tanpa pretensi. Ia berbeda dengan orang-orang pada umumnya yang suka mengkritik karena memiliki motif tertentu. Uang misalnya. Dan, begitu diberi uang langsung diam. Tapi Mul lain. Ia tidak memiliki motif rendah semacam itu. Bahkan ia tak jarang menuai konsekuensi logis dari kritiknya. Dipukul. Tetapi semua itu tak lantas membuatnya berhenti.

Seseorang pernah bertanya kepada Aksa Mahmud, “kenapa Mul selalu mengkritik bapak? ”

“Kalau Mul mau uang, ia sudah berhenti mengkritik saya. Tapi tidak. Saya kasih uang atau tidak, tetap saja mengkritik saya.” Jawab Aksa Mahmud.

Atau pada kesempatan lain, ada orang datang melapor kepada Aksa Mahmud, bahwa ia dimaki-maki oleh Mulawarman.

“Di depanku saja, Mul memaki saya, apalagi di belakangku,” elak Aksa Mahmud sambil terkekeh.

Begitu pula dengan Nurdin Halid, sosok yang juga tak luput dari kritiknya. Selama putaran Pilgub Sulsel 2018 berlangsung, seorang yang selalu mendampingi Nurdin Halid melapor kepadanya karena ia terus-terusan dikritik Mulawarman.

“Saya saja dikritik, apalagi kamu,” jawab Nurdin sekenanya.

Begitu kurang lebih gambaran karakter seorang Mulawarman yang tidak berubah sejak dulu. Tidak peduli kalau ia harus terlantar dan ditinggalkan sebagai konsekuensi dari cara ia mengungkapkan gelisahnya. Tetapi, mungkin karena terlalu sering ia terlantar, membuat ia dengan mudah bergaul dengan siapa saja. Ia tidak jarang ditemukan terselip di antara para senior, atau di tengah para junior yang sedang “kongkow-kongkow” di cafe atau di warung kopi.

Itulah sosok Mulawarman yang seolah tidak peduli kalau hidupnya masih saja terus “menggelandang”, padahal raganya sudah tak lincah lagi seperti dulu. Namun ia tetap saja setia pada ideologi sandal kulitnya, dan belum juga lelah untuk mengingatkan dengan cintanya yang gelisah. (*)