‘Orang-Orang Malang’

oleh

 

 

 

Oleh: Heri Dermawan

 

FYDOR DOSTOEVSKY : Orang-orang malang

Refleksi cinta yang membelunggu dalam perbudakan
Pada beberapa bulan yang lalu, “Orang-orang Malang” sebagai temanku kemanapun aku
pergi, entah di jalan atau berada di kamar mandi.

Kisah-kisah klasik yang begitu menggairahkan
dan menguras tenaga untuk berpikir panjang terhadap isi dari buku tersebut. Fydor selalu saja
memikat perhatianku kepadanya, bahasanya yang agak vulgar dan cerita dalam
novel-novelnya selalu menyedihkan dan membawa kita kepada realitas yang terjadi saat ini,
khususnya pada kota-kota metropolitan yang kelihatan megah nan indah, namun menyimpan sejuta
kepedihan yang dirasakan oleh para buruh yang mencangkok kehidupannya di sebuah perusahaan-
perusahan yang merampas waktu untuk bersantai dan ngopi bareng sama teman-teman. Baiklah,
kita akan mengulas “apa yang muncul dibenak kita terhadap”Orang-orang Malang”?.

Pada novel tersebut, Fyodor Dostoevsky menulisnya dengan begitu aneh bagi saya yang kali
pertama membaca novel dengan gaya kepenulisan yang saling berbalas surat pada dua tokoh utama.
Mengingatkan kita tentang kehidupan di masa lalu, dimana pada saat itu belum berkembangnya
teknologi komunikasi, seperti handphone dan sebagainya.

Fyodor memperlihatkan kualitas
kepenulisannya melalui dua tokoh utama yang saling berbalas surat. Tentu hal ini sangat menguras
tenaga Fyodor karena harus memikirkan dua tokoh dalam menulis surat-surat yang ada dalam novel
tersebut. Adapun nama dari kedua tokoh ini adalah Makar Devushkin dan Varvara Alexeyevna.

Surat pertama kepada Varvara Alexeyevna, Makar Devushkin menjelaskan bagaimana
kehidupan yang dialaminya kemudian dia memikirkan tentang Varvara, seorang gadis malang yang
setiap paginya berangkat kerja kemudian pulang pada sore hari. Lalu, Makar menjelaskan dirinya
yang begitu berhasrat untuk memiliki Varvara berwajah mungil dan parasnya cantik. Nah, Makar
berimajinasi dalam gagasannya tentang tirai yang menutupi kamar Varvara “ Bagaimana gagasan
kita tentang tiraimu itu, Varenka? Bagus benar bukan? Apakah aku duduk bekerja, atau pergi tidur,
atau sedang bangun aku yakin bahwa disana pun kamu memikirkan aku, kamu ingat aku, dan kamu
sehat dan bergembira. Jika kamu tutupkan tiraimu itu berarti—“Sudah ya, Makar, sudah waktunya
untuk tidur!” .

Jika kamu buka tiraimu itu berarti —“Selamat, Makar, Bagaimana tidurmu,” atau
—“Bagaimana kesehatanmu, Makar? Aku sendiri, syukur kepada Tuhan, aku sehat dan bugar!” Jadi
kamu lihat sayangku bagaimana cerdiknya siasat ini; dan kamu kamu tidak memerlukan sepucuk
surat pun! Pintar, ya? Dan itu gagasanku, lho! Bagaimana, aku pintar dalam hal-hal seperti itu kan,
Varvara?”( Orang-orang Malang:19). Walau bagaimanapun Fydor tetaplah sebagai pemimpi yang
besar memimpikan dimana kota-kota dibangun dengan kesan cinta yang tak terikat dengan realitas
materi .

Namun, apakah mimpi itu telah tercapai pada kota-kota yang kelihatan megah nan damai itu. Disini, Fyodor juga menyampaikan tentang alur kegiatan orang-orang kota yang tidak lepas dari
pekerjaan industri apapun . Namun, dalam penggalan surat yang disampaikan Makar kepada
Varvara adalah cerita tentang mimpi orang-orang yang berada dalam kerumitan ekonomi di mana
mereka harus tegar dan berbohong terhadap realita yang terjadi. “Aku sendiri, syukur kepada
Tuhan, aku sehat dan bugar !” begitulah penegasan Makar yang berusaha keluar dari derita sehingga
mempertegas dirinya bahwa dia harus kuat dan sehat .
Sebagai refleksi diri terhadap penggalan percakapan yang terjadi antara dua tokoh utama itu,
Fyodor sangat lihai dalam membaca realitas sosial yang terjadi. Konflik antara mimpi dan
kenyataan yang tak pernah usai dalam kehidupan dunia kita.

Apakah ada seseorang hamba cinta
yang betul-betul jujur terhadap realita yang dideritanya sendiri? senyuman kita hanyalah tentang
kepedihan yang disembunyikan bertahun-tahun dalam ilusi kemerdekaan.

Individu akan meredeka
ketika menghargai cinta secara jujur dan memandang cinta tidak terikat dengan apa yang ingin
dimakan esok hari.

Jangan sebut cinta saat masih diperbudak! jangan sebut kebebasan tanpa adanya
ikatan batin yang kuat! jangan sebut hubungan jika masih bersyarat!. Satu-satunya jalan kebebasan
adalah ketika kita mengerti bahwa budak adalah orang yang dikhianati oleh cinta. Matilah kau cinta
dalam negeri biadab ini !!!.