Kontribusi Lembaga Pendidikan Muhammadiyah untuk Kemajuan Indonesia

oleh

Oleh : Nurul Sakinah Arif

Muhammadiyah adalah sebuah organisasi kemasyarakatan yang berlandaskan nilai-nilai dasar Islam. Dalam Mars Muhammadiyah sendiri kita bisa menyimpulkan bahwa Muhammadiyah bukanlah agama melainkan sebuah gerakan yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (Mahsun, 2011).

Dalam mencapai tujuan tersebut Muhammadiyah melakukan berbagai cara, salah satunya yaitu dengan membangun fasilitas pendidikan yang mumpuni untuk menciptakan kader penerus Muhammadiyah yang berkompeten. Hal ini memberikan dua manfaat signifikan terhadap kemajuan Indonesia; yaitu mencetak cendekiawan yang beradab dan menyerap tenaga kerja produktif Indonesia.

Pendidikan adalah hal paling fundamental terhadap sebuah bangsa. Ketika pemuda bangsa tidak memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni, maka di masa yang akan datang bangsa tersebut akan sulit untuk mencapai kesejahteraan. Di sisi lain, Muhammadiyah terbentuk atas dasar pergolakan batin K.H. Ahmad Dahlan terhadap situasi menyimpang di lingkungannya saat itu.

Kemudian beliau mengawali perjuangannya dengan membangun fasilitas pendidikan. Fasilitas pendidikan tersebut kemudian menjadi semakin maju dari masa ke masa (Bramantyo, 2010). Dari awal pembentukan Al-Qismu Al-Arqa sebagai sekolah pertama Muhammadiyah, saat ini telah terdapat 9.653 lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Lembaga pendidikan tersebut terdiri dari 4623 TK/TPQ, 2252 SD/MI, 1.111 SMP/Mts, 1291 SMA/SMK/MA, 67 Pondok Pesantren, 171 Perguruan Tinggi Muhammadiyah, dan 71 Sekolah Luar Biasa (Data Amal Usaha Muhammadiyah). Fasilitas pendidikan ini bertujuan untuk membentuk pola pikir pemuda yang mandiri dan beradab sekaligus jauh dari taqlid sebagaimana muslim yang seharusnya. Sejalan dengan hal tersebut, berdasarkan data dari Globalreligiusfuture, Indonesia memiliki 87 persen penduduk muslim.

Sehingga, secara tidak langsung lembaga pendidikan Muhammadiyah dapat menjadi wadah peningkatkan standar pendidikan pemuda Indonesia. Kemudian hal tersebut secara signifikan dapat mencetak cendekiawan muda yang beradab untuk agama islam sendiri dan juga kepada Indonesia secara umum.

Setiap tahun, terdapat ratusan bahkan ribuan pelajar yang lulus dengan nilai ujian akhir yang memuaskan atau memperoleh predikat cumlaude di berbagai instansi pendidikan, khususnya SMA/sederajat dan perguruan tinggi. Namun tidak ada yang menjamin mereka dapat memiliki pekerjaan setelah lulus. Walaupun saat ini tingkat pengangguran di Indonesia secara statistik menurun, hal tersebut belum patut dibanggakan.

Hal ini disebabkan oleh serapan tenaga kerja yang didominasi oleh lulusan SD dan SMP dengan jumlah total 75,37 juta orang atau 58,7 persen dari jumlah keseluruhan. Menurut Badan Pusat Statistik, saat ini pengangguran dengan ijazah SMK bertambah dari 7,21 persen menjadi 8,63 persen. Di saat yang sama, pengangguran lulusan Diploma I/II/III bertambah dari 5,87 persen menjadi 6,89 persen dan pengangguran lulusan sarjana bertambah dari 4,31 persen menjadi 6,24 persen (Thomas, 2019).

Tak dapat dipungkiri bahwa hal ini akan menjadi bom waktu yang akan meledak sejalan dengan hadirnya pasar bebas. Di era pasar bebas ini para tenaga kerja dituntut adaptif dan kreatif, apabila tenaga kerja tersebut tidak memiliki skill mumpuni maka bom waktu akan meledak dan pemerintah akan sangat kewalahan.

Di saat yang sama, seperti yang telah disebutkan bahwa terdapat 9.653 lembaga pendidikan yang didirikan oleh Muhammadiyah. Dalam menjalankan instansi atau lembaga pendidikan tersebut tentu diperlukan tenaga kerja. Apabila dianalogikan setiap satu lembaga pendidikan Muhammadiyah menyerap 50 orang tenaga kerja, maka terdapat 482.650 orang yang mendapatkan pekerjaan dari lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Muhammadiyah sejatinya juga tidak luput dari pemanfaatan kadernya. Hal tersebut dapat dilihat pada beasiswa-beasiswa yang disediakan oleh Muhammadiyah. Ada berbagai macam bentuk beasiswa Muhammadiyah, diantaranya yaitu Beasiswa Kader Unggulan Muhammadiyah (KAUM) dan Beasiswa Ilmu Falak dan Ilmu Astronomi (Ratri, 2019).

  • Indonesia dan Muhammadiyah

Setiap perguruan tinggi Muhammadiyah yang menyediakan beasiswa juga memiliki persyaratan yang berbeda sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan. Beasiswa ini akan membuat kader muda Muhammadiyah lebih bersemangat untuk meningkatkan kapasitas dirinya. Sehingga, Muhammadiyah dapat dikatakan sebagai organisasi yang benar-benar telah memperhatikan kesiapan kadernya dalam menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa lembaga pendidikan Muhammadiyah berkontribusi dalam pengurangan tingkat pengangguran di Indonesia.

Memang benar bahwa Muhammadiyah adalah lembaga independen atau swasta yang berlandaskan nilai-nilai Islam dalam segala kebijakan yang diberlakukan. Namun dalam pelaksanaannya, tidak ada batas antara agama, ras ataupun budaya dalam lembaga pendidikan Muhammadiyah. Bahkan terdapat beberapa lembaga pendidikan Muhammadiyah yang mayoritas muridnya beragama non-islam, salah satunya yaitu SMK Muhammadiyah Serui di Papua (Laksana, 2017).

SMK Muhammadiyah Serui menjadi pilihan mayoritas warga lokal di Kecamatan Serui untuk menyekolahkan anaknya. Berdasarkan hasil wawancara Sekertaris Jenderal Muhammadiyah kepada orang tua murid, alasan utama yang membuat mereka menyekolahkan anaknya di SMK Muhammadiyah Serui yaitu karena mutu serta pembinaan ekstrakurikuler yang baik. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak terdapat batas antara non-muslim dan muslim dalam pengabdian Muhammadiyah terhadap pendidikan di Indonesia.

Saya percaya bahwa Muhammadiyah sangat berperan dalam kemajuan bangsa Indonesia saat ini hingga di masa yang akan datang. Jika setiap sektor pengembangan yang dilakukan Muhammadiyah menggunakan sumber daya lokal maka Muhammadiyah dapat meningkatkan populasi cendekiawan produktif yang juga beradab serta dapat mengurangi jumlah pengangguran. Sehingga Indonesia bisa selangkah ke depan menjadi negara maju atau bahkan kembali menyandang status sebagai salah satu “Macan Asia”.