SAdAP Prihatin Ada Pelajar Bunuh Diri di Gowa

oleh

MACCANEWS – Pandemi covid 19 yang kian runyam melahirkan banyak masalah baru, salah satunya terkait dunia pendidikan yang ikut menjadi persoalan krusial, dimana model sistem pembelajaran dilakukan secara online.

Hal ini mendapat beragam tanggapan dari masyarakat yang sudah mulai jenuh dengan terapan yang dibuat oleh menteri pendidikan Nadiem Makarim.

Kejenuhan yang muncul tentu berdampak negatif, apalagi sistem online diberlakukan secara menyeluruh disemua tingkatan dari SD hingga mahasiswa.

Khusus murid SD, tentu secara psikis akan terganggu bila terus menerus belajar dengan sistem online, padahal dimasa SD para siswa difokuskan pada kebutuhan psikomotorik, kognitif dan afektif yang harus terpenuhi melalui belajar secara tatap muka.

Terekait masalah tersebut, Syarifuddin Daeng Punna tokoh masyarakat Sulsel yang sering disapa SAdAP ini sangat prihatin dengan kondisi tersebut dan mengemukakan lambannya respon menteri pendidikan dalam melihat realitas belajar mengajar dengan sistem online dimana sudah banyak siswa bahkan orang tua siswa yang frustasi akibat dampak yang ditimbulkan oleh sistem belajar online.

“Saya geram ketika mendapat informasi di kampung halaman di Kabupaten Gowa ada seorang siswa yang frustasi karena tidak sanggup lagi mengikuti belajar online dan pada akhirnya mengakhiri hidupnya. Ini sangat miris sekali,” terang SAdAP via pesan Whatsapp, Minggu (18/10).

Olehnya itu, SAdAP menyesalkan menteri pendidikan yang tidak progressif dalam menata ulang sistem pendidikan dimasa pandemi, padahal berulang kali SAdAP menyarankan di media agar pola belajar mengajar kembali diterapkan dengan cara tatap muka namun dengan catatan menggunakan sistem shift hingga sore hari, atau dengan durasi 2 jam per kelas dengan dibagi jumlah siswa sesuai protap covid 19, namun seorang menteri tidak mampu melakukan hal itu, apa susahnya kebijakan itu dikeluarkan.

Kalau kemudian pihak kementerian tidak respect, lanjut SAdAP, sebaiknya menterinya mengundurkan diri saja, karena tidak mampu membuat terobosan di masa sekarang ini.

“Saya juga menyarankan agar kepala daerah berinisiatif untuk membuat regulasi yang mengatur tentang sistem pendidikan tatap muka diterapkan kembali demi memenuhi berbagai saran dari masyarakat, dengan mengedepankan monitoring secara berkala melalui pengawasan secara ketat di sekolah, tidak usah mengikuti menteri yang kurang peka melihat realitas di tengah masyarakat yang sudah mulai frustasi dengan kebijakannya,” tutup SAdAP. (*)